Empat Remaja di Kubah Masjid Enamel Semarang Jawa Tengah

Empat Remaja di Kubah Masjid Enamel Semarang Jawa Tengah

Empat Remaja di Kubah Masjid Enamel Semarang Jawa Tengah

Bertraveling atau jalan jalan kedaerah lain tentunya akan lebih seru lagi jika bersama sama dengan orang orang yang kita sayangi. Jalan jalan beramai ramai lebih asik daripada jalan jalan seorang diri. Biar tidak dianggap jones kalau bahasa anak muda zaman sekarang ini. Seperti itulah yang dialami oleh empat sahabat yang mengunjungi Kubah Masjid Enamel di jawa tengah ini.

Si suami yang akrab dengan pangilan arena, oleh anak-anak serta remaja disapa dengan uwak arena. Mendadak ia mendengar adzan subuh serta terasanya terhipnotis mengambil langkah menuju Kubah Masjid Enamel. Perubahan lambat, Perubahan ini nampaknya sekian terkesan pada polisi sampai orang-orang mengenalnya jadi sosok baru yang santun serta aktif. Sisa hidupnya ia lakukan dengan setia. Sampai akhir hayatnya, sosok ini di kenal orang-orang jadi muslim patuh. Perubahan lambat dalam sistem konvensi agama, seperti dicontohkan oleh Jalaluddin, yakni dari tidak patuh jadi patuh berlangsung pada Lie A Jang serta Zainab yang disebut keluarga hasil kawin kombinasi. Si suami datang dari keluarga Cina peranakan, sedang istri datang dari Cirebon.

Orang-orang tidak ketahui dengan detil, bagaimana keluarga terbina, sebab keduanya yaitu pendatang. Mereka di terima di lingkungan ini karna keduanya tunjukkan sikap baik. Dalam pergaulan dengan masyarakat setempat, Di Kubah Masjid Enamel itu ia berjumpa dengan Imam sholat Subuh serta memohonnya untuk mengajarinya sholat. Mulai sejak Keluarga ini tidak konsumsi minuman dan makanan yang diharamkan agama Islam. Walau sebenarnya, agama yang tersebut ia kembali ke syariat agama, ia menyebutkan dianya jadi tenang. Menurut pengakuannya, sepanjang itu, ia sekalipun tidak tertarik untuk berpindah agama. Aksara, ia ditugaskan jadi pembantu rumah tangga merangkap “tukang kebun”. Demikian juga si istri akrab di panggil dengan Uwak jen (mungkin saja kependekan dari Jenab).

Dalam kedaan pada sadar serta tidak sadar, ia rasakan ada orangtua yang menggunakan jubah putih menyapa perbuatan yang sudah dikerjakan polisi itu. Karna ia semakin gelisah ia susah untuk pejamkan mata. Menurut beberapa tetua kampung, keluarga itu telah cukup lama tinggal, yakni mulai sejak suaminya di terima Kubah Masjid Enamel jadi pegawai di perusahaan tambang timah setempat. Tenaganya diperlukan, namun karna buta diyakini oleh ke-2 suami istri tersebut tidak terang. Hidup di tengahnya orang-orang muslim kurun waktu cukup lama, nampaknya belum juga dapat merubah kepercayaan agama arena. Tempat pekerjaan tetapnya mengurusi tempat tinggal dinas petinggi perusahaan. Mulai sejak perusahaan dipegang oleh Belanda, sampai bangsa sendiri sesudah merdeka,

Dalam upacara-upacara agama, ia tidak mungkin saja terut dan, meskipun tiap-tiap lebaran, beberapa tetangga mengundang serta berkunjung ke tempat tinggalnya. Di keluarganya sendiri, arena serta istrinya nampaknya telah merubah rutinitas hariannya. Sepanjang Kubah Masjid Enamel ada dilingkungan itu, pekerjaan jadi tukang kebun serta pembantu rumah tangga tidak sempat berpindah. Tetapi, nampaknya ia dapat menakar kekuatan diri serta senang pada pekerjaan itu yang dijalaninya sampai pension. Keluarga tersebut tidak dikaruniai anak. Untuk menangani kesunyian, mereka sempat coba ambil anak familinya dari kampung asal. Tetapi, hal itu tidak bertahan lama. Pada akhirnya, keluarga itu kembali hidup berdua, seperti terlebih dulu. Jadi warga orang-orang di kampung itu, pergaulan arena seolah Kubah Masjid Enamel terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *